Wedung – Kelompok Tani Onggojoyo Jaya bersama Yayasan Lahan Basah Indonesia (Wetlands International Indonesia) kembali menunjukkan komitmennya dalam upaya pelestarian ekosistem pesisir. Kolaborasi terbaru diwujudkan melalui pembangunan struktur perlindungan area mangrove berbahan bambu di kawasan tambak Dukuh Tambak Gojoyo, Kecamatan Wedung, Kabupaten Demak. Langkah ini bertujuan untuk mengamankan bibit dan pohon mangrove yang telah tumbuh di area tambak AMA dari ancaman abrasi dan hantaman gelombang.
Metode Ramah Lingkungan untuk Perlindungan Mangrove
Kegiatan yang dilakukan pada akhir Agustus 2026 ini mengadopsi pendekatan hybrid engineering atau rekayasa semi-permeabel yang telah terbukti efektif dalam berbagai proyek rehabilitasi pesisir. Struktur yang dibangun menggunakan material bambu, yang dipilih karena sifatnya yang ramah lingkungan, mudah diperoleh, dan ekonomis bagi masyarakat pesisir.
Ketua Kelompok Tani Onggojoyo Jaya, Maskur, menjelaskan bahwa pembangunan struktur ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan untuk melindungi mangrove yang telah tumbuh secara alami di area tambak AMA. “Kami belajar dari pengalaman sebelumnya bahwa penanaman mangrove saja tidak cukup. Bibit yang baru tumbuh seringkali rusak diterjang gelombang. Karena itu, perlindungan pantai menjadi tahap awal yang penting sebelum ekosistem mangrove dapat pulih,” ujar Maskur saat ditemui di lokasi kegiatan.
Struktur bambu yang dipasang berfungsi sebagai pemecah gelombang sekaligus penangkap sedimen. Bambu-bambu yang ditancapkan ke dasar lumpur di pesisir tambak berfungsi memperlambat energi gelombang dan menangkap sedimen yang terbawa arus. Sedimen yang terperangkap di belakang struktur secara alami akan mengendap dan membentuk substrat baru yang lebih stabil, yang pada akhirnya menjadi media tumbuh yang ideal bagi mangrove.
Kolaborasi Program Mangrove For Food Scurity (MFS)
Pendampingan yang diberikan oleh Yayasan Lahan Basah melalui program Mangrove For Food Scurity (MFS) menjadi kunci keberhasilan inisiatif ini. Program yang telah berjalan sejak 2024 di pesisir Demak ini menggabungkan pendekatan rekayasa ekologis dengan pemberdayaan masyarakat untuk mengatasi abrasi dan memulihkan ekosistem pesisir.
“Salah satu keberhasilan kami bersama Kelompok Tani Onggojoyo Jaya adalah bagaimana struktur semi-permeabel yang kami bangun bersama dapat menangkap sedimen dan secara alami mendorong pertumbuhan mangrove. Ini adalah bukti bahwa pendekatan berbasis alam dapat memberikan solusi jangka panjang,” jelas perwakilan Yayasan Lahan Basah.
Kelompok Tani Onggojoyo Jaya sendiri telah memiliki pengalaman panjang dalam upaya konservasi mangrove. Sejak 2015, kelompok ini telah aktif dalam berbagai kegiatan penanaman dan pengenalan jenis mangrove, termasuk dalam peringatan Hari Mangrove Internasional. Mereka bahkan telah berhasil mendorong diterbitkannya Peraturan Desa tentang Pengelolaan dan Perlindungan Wilayah Pesisir sebagai payung hukum bagi upaya konservasi di wilayah mereka.
Menjaga Mangrove di Tambak, Menjaga Masa Depan Pesisir

Dukuh Tambak Gojoyo, yang terletak di pesisir Desa Wedung, merupakan salah satu wilayah yang paling rentan terhadap abrasi di Kabupaten Demak. Tingkat abrasi di Kecamatan Wedung tercatat mencapai -571,08 meter, dengan dampak langsung pada tambak dan permukiman warga. Upaya perlindungan mangrove menjadi krusial karena ekosistem ini tidak hanya berfungsi sebagai benteng alami penahan abrasi, tetapi juga sebagai habitat bagi berbagai biota laut yang menunjang mata pencaharian masyarakat.
Langkah kelompok tani ini juga sejalan dengan upaya pemerintah dalam rehabilitasi pesisir. Di tempat terpisah, upaya serupa menggunakan struktur bambu sebagai perlindungan pantai juga sedang dikembangkan di wilayah pesisir Demak lainnya, dengan target rehabilitasi kawasan mangrove seluas 772 hektar.
“Dengan adanya struktur bambu ini, kami berharap bibit mangrove yang mulai tumbuh dapat tumbuh dengan baik dan membentuk benteng hijau yang melindungi tambak kami dari abrasi,” kata Maskur. Ia menambahkan bahwa keberhasilan program ini tidak lepas dari kesadaran masyarakat yang semakin meningkat akan pentingnya mangrove, baik bagi lingkungan maupun bagi kehidupan ekonomi mereka. Kegiatan ini menjadi bukti bahwa kolaborasi antara kelompok masyarakat dan yayasan lingkungan dapat menghasilkan solusi inovatif dan bserkelanjutan untuk mengatasi tantangan perubahan iklim dan kerusakan ekosistem pesisir.

