DEMAK – Kelompok Tani Onggojoyo Jaya terus berinovasi dalam mengembangkan budidaya perikanan yang ramah lingkungan melalui pembangunan tambak dengan sistem Associated Mangrove Aquaculture (AMA) atau Budidaya Mangrove Terpadu di Desa Wedung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Sistem ini menjadi langkah maju dalam mengintegrasikan pelestarian ekosistem mangrove dengan aktivitas budidaya perikanan secara berkelanjutan.
Berbeda dengan metode silvofishery konvensional yang menanam mangrove di dalam atau di pinggir tambak, sistem AMA menerapkan pendekatan yang lebih terstruktur. Teknologi ini membangun zona penyangga mangrove di luar batas tambak dengan membuat dua baris tanggul sejajar dengan tepi sungai yang dilengkapi pintu air untuk mengatur aliran air dan mendorong pengendapan sedimen di antara kedua tanggul .
Mengenal Sistem AMA
Sistem AMA diperkenalkan sebagai solusi atas berbagai tantangan yang dihadapi petambak di pesisir Pantai Utara Jawa, termasuk penurunan permukaan tanah, abrasi, dan hilangnya tambak akibat kerusakan mangrove . Dalam sistem ini, sebagian tambak dikembalikan menjadi kawasan mangrove untuk melindungi pesisir, meningkatkan keanekaragaman hayati, dan mendukung ekonomi lokal .
Prinsip utama AMA adalah memperlebar tanggul yang berbatasan dengan sungai atau laut sebagai sarana menumbuhkan mangrove untuk sabuk hijau (green belt). Untuk tambak dengan lebar kurang dari 30 meter dari tepian aliran sungai atau laut, seluruh tambak direkomendasikan sebagai sabuk hijau. Sementara untuk tambak di atas 30 meter, dibangun green belt selebar 10 meter dengan cara memundurkan tanggul tambak secara bertahap .
“Dengan cara ini, biasanya mangrove akan tumbuh seiring terbentuknya sedimen,” jelas para praktisi yang mendampingi penerapan sistem ini di lapangan .
Dampak Positif bagi Kelompok Tani Onggojoyo Jaya
Penerapan teknologi AMA di tambak Kelompok Onggojoyo Jaya terbukti memberikan dampak positif terhadap peningkatan pendapatan rumah tangga dan keberlanjutan usaha anggota kelompok . Maskur, Ketua Kelompok Onggojoyo Jaya sekaligus petambak, mengungkapkan bahwa uji coba budidaya kepiting berkelanjutan menghasilkan penjualan sebanyak 51,5 kilogram kepiting dengan laba kotor sebesar Rp3.015.000 selama dua bulan.
“Hal ini menunjukkan bahwa budidaya kepiting layak menjadi salah satu pilihan mata pencaharian masyarakat,” ujar Maskur .
Maskur menambahkan bahwa sejak sistem AMA diterapkan, keberadaan mangrove membantu menjaga kualitas air, menyediakan habitat perlindungan, serta menjadi sumber pakan alami bagi biota tambak. Kondisi tersebut turut meningkatkan produktivitas budidaya perairan di tambak.
“Hasilnya langsung kami rasakan. Semoga ini bisa memberikan contoh lebih baik dari yang baik dalam kegiatan budidaya yang ramah lingkungan di daerah kami,” tegasnya .
Desa Wedung sebagai Laboratorium Hidup Konservasi Pesisir

Desa Wedung, khususnya kawasan Tambak Gojoyo, telah lama menjadi lokasi berbagai program konservasi mangrove dan pengembangan budidaya ramah lingkungan. Berbagai inisiatif dari perguruan tinggi, lembaga swadaya masyarakat, dan pemerintah daerah terus dilakukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga ekosistem pesisir .
Sebelumnya, Kelompok Tani Onggojoyo Jaya juga telah aktif dalam berbagai kegiatan pelestarian lingkungan, termasuk penanaman mangrove dalam rangka memperingati Hari Mangrove Sedunia yang bekerja sama dengan Yayasan Lahan Basah, Forum Bintoro, dan OISCA Jawa Tengah .
Keberhasilan sistem AMA di Desa Wedung diharapkan dapat menjadi model bagi pengembangan budidaya perikanan ramah lingkungan di wilayah pesisir lainnya. Pendekatan berbasis alam ini terbukti mampu menjawab tantangan kerusakan lingkungan sekaligus mendukung kesejahteraan ekonomi masyarakat pesisir secara berkelanjutan.

